Postingan

Orkes di Negeri Distopia

Gambar
Orkes Silampukau merilis mini album 'Stambul Arkipelagia Vol.1' yang berisikan 5 tembang anyar secara digital. Musik khas Melayu era Herman Tino cukup tak asing di telinga, dengan format fresh (orkes/yang sebelumnya duo) Silampukau berhasil membuat kita berpikir tentang narasi apa yang ingin disampaikan pada mini album ini. Secara judul 'Stambul Arkipelagia' terdengar sangat berat, Stambul yang secara umum dikenal sebagai salah satu variasi musik keroncong (hasil pencarian di internet) dipadukan dengan Arkipelagia yang dipercaya sebagai distopia (negeri khayalan) ini bisa berarti sarkasme untuk 'negeri yang sengeri' hari ini. Stambul Arkipelagia memang berat jika disimak secara singkat, untuk yang mengenal Silampukau melalui 'Puan Kelana' mini album ini akan terdengar sangat berbeda apalagi lirik yang dinyanyikan terkait masalah-masalah sosial seperti; krisis cuaca dan kemiskinan yang sarat akan pesan kritis dari kaum urban. Hal menarik lainnya adalah ha...

Terdampar Ombak Melankolia

Gambar
Marcello Tahitoe baru saja merilis album 'Ombak Melankolia' pada akhir April lalu. Album yang bernuansa Pop Rock ini cukup ramai diproduseri oleh sederet nama beken seperti Vega Antares, Iga Masardi, dan pada singlenya yang bertajuk 'Setunggal' ini diproduseri oleh personel sejuta band pada masanya Pandu 'Fuzz'toni. Pemilihan 'Setunggal' sebagai single pada album ini terbilang tepat karena agaknya nuansa retro yang dibentuk bisa terdengar sangat ramah di telinga orang banyak (easy listening).  Persona yang dibangun oleh Marcello Tahitoe sekarang juga mempengaruhi citranya sebagai musisi yang telah melewati beberapa proses pendewasaan secara musikal. Ombak Melankolia adalah hasil dari perjalanan Ello untuk menemukan warna musik yang beragam. Pada diskografinya, ia telah melintasi beberapa kiblat yang akhirnya sampai pada deburan Ombak Melankolia ini. Ketika mendengarkan 'Setunggal' untuk pertama kali, mungkin visual yang akan terbayang adalah seda...

Semesta Semesta! Manusia Aksara

Gambar
Lagu dari Manusia Aksara ini sebenarnya sudah pernah dirilis pada album debut mereka 'Selamat Datang Di Era Penuh Kejutan' pada November 2022 lalu dengan format full band. Sekarang mereka mengeluarkan kembali lagu ini untuk memperpanjang nafas promosi dengan merilis versi akustiknya. Bersama dengan Vira Razak yang dikenal sebagai mantan vokalis Killing me Inside, lagu versi akustik ini benar-benar pas untuk sampai ke lubuk hati manusia yang sedang 'mencari' dan 'bertanya'. Kesan religius sangat terasa dari musik yang dimainkan dengan gitar akustik, formatnya sedikit mengingatkan saya kepada Banda Neira. Lirik kuat akan nuansa spiritual yang personal menjadikannya cocok dirilis pada bulan ramadhan seperti ini. Pertanyaan pada Semesta Semesta 'mana suara yang benar?' mungkin mengangkat memori saya tentang Banda Neira. Dikutip dari lirik 'Hujan di Mimpi' yang seakan menjawab pertanyaan Manusia Aksara, Banda Neira bilang 'semesta bicara tanpa ber...

Suf Anthalogy pergi ke 'Ruang Kosong'

Gambar
Suf Anthalogy baru saja merilis single perdananya dengan takjub 'Ruang Kosong'. Terdengar seperti lagu untuk meratapi diri sendiri, penyesalan yang ada di suatu masa terkelam dalam hidup. Suf Anthalogy mencoba mengingatkan pendengar untuk perlunya sedikit bangkit melawan kehancuran yang terus menyerang. Pergi ke ruang kosong disini mungkin melepas segala berat dalam sibuknya mencari-cari hal apapun yang perlu dicari. Saya merasa kena ketika mendengar 'kurasakan datang dan pergi'. Layaknya konsep ruang dan waktu, datang dan pergi juga tak lepas dalam menghadirkan gugatan keinginan hasrat untuk sejenak beristirahat menenangkan jiwa yang telah buta. Dengan artwork mata ditengah awan gelap juga menambah kesan horizontal antara manusia dan penciptanya. Musik rock santai dibalut dengan sentuhan gitar psikedelik membuat Ruang Kosong ini layak dengar banyak telinga. Semoga sukses untuk single debutnya Suf Anthalogy! Tetap berkarya! Makin produktif! Dan tenangi jiwa! YouTube:  h...

NOMADEN PULANG KERUMAH

Gambar
Fikri Arkan atau yang kita kenal dengan nama panggung Nomaden hari ini (26/3) baru saja merilis single terbarunya dengan titel 'Home'. Disini ia bercerita tentang kekagumannya pada seseorang yang tidak diungkap, dengan suara piano di awal lagu yang melelehkan pendengarnya ia berhasil membawakan vibes 'When I Wish Your Man' milik Bruno Mars. Kesan pertama ketika mendengarkan Home, saya langsung memposisikan diri sebagai seorang perempuan yang ia nyanyikan lagu ini didepannya. Membuat saya merasa luluh akan musik yang menyayat dan seakan 'ngajak mematikan lampu' ini. Nomaden berhasil pulang dan memeluk telinga-telinga para perempuan hilang arah untuk kembali pulang kerumah. Alunan musiknya juga cukup edgy dan ramah dengar ke para pendengar, rapih nan apik. Sangat layak didengar kala sedih merindukan kehangatan rumah yang biasa kita peluk dikala sikon yang pelik dalam kehidupan.  Tampilan cover pada Home juga menambah kesan ke 'elegan' an Nomaden yang mulai...